
(inilah.com /Agus Priatna)
INILAH.COM, Jakarta – Saham PT Bumi Resources (BUMI) pada Jumat (8/1) berpotensi mengalami rebound. Rencana rights issue beberapa emiten di grupnya, masih membawa sentimen positif pada saham primadona ini.
Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Aset Manajemen memprediksikan, BUMI hari ini akan berbalik arah dan menguat. Meski emiten tambang batubara ini kemarin terkoreksi, namun tren pergerakannya masih menunjukkan adanya kenaikan.
Ia memperkirakan BUMI akan mengarah ke level resistance Rp2.800 dan Rp2.600 sebagai level support-nya. “Saya rekomendasikan trading buy untuk BUMI,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (7/1) petang.
Menurutnya, penguatan BUMI dipicu faktor aksi korporasi grup Bakrie, dimana beberapa anak usahanya akan melakukan rights issue. Menjelang penerbitan saham baru ini, lanjutnya, biasanya suatu saham akan terkoreksi dulu, karena pelaku pasar mengkhawatirkan saham yang dimilikinya akan terdilusi. “Namun, hal ini tidak terjadi pada Grup Bakrie,”ujarnya.
Nico menguraikan, menjelang rights issue, saham di grup Bakrie justru dikerek naik oleh pihak yang berkepentingan. Tujuannya, agar harga saham yang di-rights issue-kan nantinya menjadi menarik bagi investor. “Karena itulah, saham BUMI terbawa arus menguat,” paparnya.
Naiknya harga minyak dunia ke level US$83 per barel
pun, akan membawa angin segar bagi BUMI. Pasalnya, kenaikan harga komoditas yang dipicu pelemahan dolar AS, akan mengangkat harga batubara, crude palm oil (CPO), nikel, dan timah.
Harga batubara saat ini berada di level US$84 per metrik ton jika mengacu pada harga di New Castle Coal Index. Harga CPO naik ke level RM2.580 per ton. “Begitu juga dengan nikel dan timah yang sama-sama mengalami kenaikan,” paparnya.
Nico menilai harga minyak dunia saat ini sudah memiliki fundamentalnya, mengingat pergerakannya diwarnai faktor demand yang riil. Namun, imbuhnya, penguatan harga minyak di AS belum riil. Hal ini dapat dilihat dari oil inventory AS yang justru naik 1,3 juta barel. “Jadi, dari sisi demand, kadang ada dan kadang juga tidak ada, sehingga belum bisa dipastikan bisa mengerek naik harga minyak di AS,” jelasnya.
Adapun kenaikan harga minyak saat ini ke level US$82 per barel, dinilai lebih karena faktor pelemahan dolar. Apalagi di saat yang sama, para hedge fund melakukan lindung nilai terhadap komoditas. Sehingga harganya secara otomatis terkerek naik. “Ini tentu sangat positif bagi saham pertambangan seperti BUMI,” tandasnya.
Antara kedua indikator pendukung kenaikan BUMI tersebut, Nico menilai, rencana rights issue akan berimbas lebih besar ketimbang pengaruh dari penguatan harga komoditas. “Sebab, kenaikan harga saham di sektor komoditas lain, tidak setinggi kenaikan saham BUMI,” urainya.
Sedangkan imbas positif dari rencana perseroan yang akan membangun overland conveyor belt , dianggap baru dapat dirasakan dalam jangka panjang. Pasalnya, pembangunan ini masih berupa wacana. “Pembangunan itu merupakan rencana jangka panjang dan saat ini belum terealisasi,” paparnya.
Seperti diketahui, BUMI berencana membangun overland conveyor belt sepanjang 30 km yang membentang dari lokasi tambang PT Kaltim Prima Coal dan PT Arutmin Indonesia menuju pelabuhan. Pembangunan senilai US$30 juta ini bertujuan untuk meningkatkan efisiensi rantai pengiriman batubara.
Pada perdagangan Kamis (7/1) kemarin, saham BUMI ditutup melemah Rp50 (1,81%) ke Rp2.700, ketimbang posisi sebelumnya di Rp2.750. Harga tertingginya mencapai Rp2.800 dan terendahnya Rp2.675. Volume transaksi mencapai 273,9 juta unit saham senilai Rp750,6 miliar dan frekuensi 6.366 kali. [ast/mdr]
sumber: inilah.com


Tidak ada komentar:
Posting Komentar