Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Jumat, 08 Januari 2010

Stok Bulog Cukup Bahkan Surplus Pedagang Berulah, Beras Naik

Ahmad Munjin

(inilah.com /Dokumen)

INILAH.COM, Jakarta – Masyarakat diharapkan tidak panik terkait kenaikan harga beras di atas 5% sejak pertengahan Desember hingga awal Januari 2010. Perhitungan produksi menunjukkan stok beras cukup bahkan terjadi surplus.

Sutarto Ali Moeso, Direktur Utama Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) mengharapkan masyarakat tidak perlu panik sehingga memicu terjadinya rush terhadap beras. Menurutnya, secara perhitungan produksi, stok beras sangat cukup dan bahkan surplus. Berkaca pada 2009, surplus beras mencapai 3,9 juta ton.

Di sisi lain, lanjutnya, para spekulan pun akan segera melepas beras mereka karena pada Februari 2010 sudah panen sehingga harga bahan pokok ini akan segera turun. “Paling lambat, pada pertengahan Februari, harga beras sudah kembali turun,” katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Jumat (8/1).

Karena itu, ia menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir. Pasalnya, pasokan beras pada dasarnya sangat cukup. Bulog saja memiliki stok sebesar 1,6 juta ton. Apalagi, tidak semua kebutuhan beras disuplai Bulog. “Di sisi lain, pemerintah sebenarnya memiliki cadangan 518 ribu ton yang dititipkan di Bulog untuk operasi pasar,” tuturnya.

Kemudian sebesar 1,1 juta ton, digunakan untuk kepentingan raskin yang bisa mencukupi hingga empat bulan mendatang selain cadangan 518 ribu ton. “Itu kan banyak,” tukasnya singkat.

Pemerintah masih memberikan toleransi kenaikan harga hingga 25%. Namun, Bulog siap jika sekarang diminta untuk melakukan operasi pasar. “Apakah kenaikan 5% sudah harus operasi, itu tergantung pada keputusan pemerintah karena Bulog hanya pelaksana,” tuturnya.

Kenaikan sebesar 5% hingga awal Januari ini, lanjutnya, bisa saja karena para pedagang, menaikkan secara perlahan. “Karena mereka tahu, saat ini baru akan mulai panen akibat ada sedikit keterlambatan musim tanam sebelumnya,” imbuhnya.

Lebih jauh Sutarto mengatakan pola pergerakan harga beras memang selalu sama di tiap tahunnya. Mulai September selalu terjadi peningkatan harga. Sebab, sejak September antara luas panen dengan kebutuhan beras di bulan tersebut cenderung tidak seimbang. “Pola panen sejak Februari-Agustus itu selalu surplus,” ujarnya.

Pada September-Januari, memang terjadi ketidakseimbangan antara produksi dengan kebutuhan. Tingkat kebutuhannya lebih tinggi daripada pasokannya. “Di situlah yang sering dimanfaatkan pedagang untuk mengambil untung sehingga menyebabkan kenaikan harga,” paparnya.

Kenaikan harga juga dipicu mundurnya waktu tanam di beberapa daerah. Akibatnya, waktu panen pun menjadi mundur. Sehingga ada pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi ini untuk berspekulasi.

“Kenaikan harga beras juga karena faktor kenaikan HPP Beras 10% yang berlaku awal 2010,” imbuhya. Bagaimanapun, hal ini akan diikuti oleh kenaikan harga di tingkat para pedagang beras.

Dalam catatan INILAH.COM, harga beras rata-rata pekan pertama Januari 2010 mengalami kenaikan Rp389 (6,7%) per kilogram menjadi Rp6.145 per kg dibandingkan harga rata-rata pekan kedua Desember 2009 pada level Rp5.756.

Data yang diperoleh dari Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) menunjukkan pasokan beras pada 7 Januari 2010 sebesar 2.014 ton atau lebih rendah 15 ton bila dibandingkan dengan pasokan tanggal 6 Januari 2010 sebesar 2.029 ton. Angka ini juga lebih rendah 246 ton dari rata-rata pasokan bulan Desember 2009 sebesar 2.260 ton.

Pendistribusian ke pasar-pasar wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan antar pulau sebesar 2.671 ton. Stok di Pasar Induk Beras Cipinang per 7 Januari 2009 sebesar 25.509 ton atau cukup untuk memenuhi kebutuhan DKI Jakarta selama 9 hari, meski lebih rendah 2.598 ton dibandingkan rata-rata stok Desember 2009 sebesar 28.107 ton. Namun, angka ini jauh lebih tinggi 4.517 ton bila dibandingkan dengan rata-rata stok bulan Januari 2009 sebesar 20.922 ton. [mdr]


sumber: inilah.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar